Kesalahan Manajemen Keuangan Gua – Sadar Setelah Nikah & Jadi Petani


“Broo… pencatatan keuangan itu penting banget. Gua ulang: penting banget. Gua nyesel karena dulu gua gak ngelakuin itu. Gua gak catet pengeluaran, gak tau pasti pemasukan. Gua cuma jalanin hidup — tapi tanpa arah.”

 

Gua mulai sadar setelah gua nikah.
Punya anak.
Punya warung.
Ngelanjutin kebun cengkeh kakek gua.
Nyambi freelance foto/video.
Ngurus channel YouTube sepupu gua — si Made Ada.
Mungkin ada yang tau yaa, dia tiktoker dari Bali yang sering bahas kerja keras dan bisnis.

Tapi gua mikir, dari semua yang gua kerjain…
penghasilan gua gak kecil-kecil amat,
tapi juga gak besar — dan gak jelas ke mana larinya.

Gua sadar bro,
penghasilan di bawah 100 juta setahun itu WAJIB banget dicatat.
Karena kalau enggak, lo jalan kayak kapal tanpa kompas.
Berlayar, tapi gak tau tujuan.


Setelah gua keluar dari kerjaan kantoran,
gua pikir jadi petani itu hidupnya lebih tenang.
Ternyata gak juga, bro…

Hidup itu gak ada jaminan.
Gak ada yang bisa ngejamin keuangan lo selain lo sendiri.
Kita gak bisa gantungin uang kita ke orang lain.

Dan gua baru ngerti itu… setelah gua nikah.
Setelah gua harus bayar susu, bayar listrik, isi stok warung.
Gua baru sadar:
“Gua harus megang kendali atas uang gua sendiri.”


Telat gak gua belajar finansial di umur 24?
Jawaban gua: GAK ADA KATA TELAT.

Gua bukan Timothy Ronald yang umur 25 udah punya kekayaan miliaran.
Tapi gua bukan dia.
Gua adalah gua.
Dengan latar belakang yang beda, jalur yang beda.

Ada yang baru sadar kayak gua,
ada juga yang baru bisa nyimpen 100 ribu per bulan.
Dan itu gak masalah, bro…

Yang penting: Lo sadar dan mulai.
Karena yang gak mulai, gak akan sampai.


Untungnya, gua masih punya kakek gua.
Beliau kasih gua kebun untuk gua kelola.
Dan gua sadar: ini bukan cuma berkah, tapi juga tanggung jawab.

Gua gak boleh cuma jadi pewaris.
Gua harus jadi pengelola.
Dan itu butuh ilmu.
Termasuk ilmu manajemen keuangan.


Sekarang prinsip gua simpel:
Minimal bisa mempertahankan. Maksimal bisa menambah.

Karena kalau nambah aja gak bisa,
ya jangan mimpi berkembang.
Tapi kalau mempertahankan aja gak sanggup, itu bahaya bro…

Makanya gua mulai catat semuanya:
pengeluaran, pemasukan, modal, stok, utang, bahkan receh.

Karena gua gak mau anak gua nanti nanya:
“Pa, dulu uang kita kemana?”
dan gua gak bisa jawab.


Gua pernah gagal, iya. Tapi gua gak mau tenggelam di situ.
Kalau lo ngerasa relate sama gua — lo gak sendirian, bro.
Dan gak ada kata terlambat buat mulai ngerti keuangan lo sendiri.

Di video selanjutnya, gua bakal tunjukin
gimana cara sederhana gua catat keuangan warung & pribadi pake cara orang desa.

Stay tune broo. Gasss!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Gagal Coba Lagi? Gimana Kalau Gak Ada Modal?"

“Jelas Lu Bisa, Lu Kan Punya Warisan!”

“Gua Buka Warung dari Utang, Untung atau Buntung?” | Cerita Bapak Muda